Tembok Iran Bertahan, Belgia Tumpul di SoFi Stadium meski Unggul Pemain
Ambisi Belgia untuk memetik tiga poin penuh di laga kedua Grup Piala Dunia 2026 kandas oleh disiplin pertahanan Iran. Di SoFi Stadium, anak asuh Rudi Garcia harus puas berbagi angka 0-0, sebuah hasil yang terasa hambar mengingat dominasi penguasaan bola hingga 71 persen.
Laga dibuka dengan kejutan tak menyenangkan bagi Belgia. Baru tiga menit berjalan, Romelu Lukaku sudah dihukum kartu kuning akibat aksi keras (roughing) saat berduel. Tanda peringatan dini ini seakan menjadi gambaran betapa fisikal pertandingan akan berjalan.
Garcia menurunkan skema 4-2-3-1 dengan Lukaku sebagai ujung tombak dan Kevin De Bruyne sebagai dirigen lini tengah. Namun, di seberang lapangan, Amir Ghalenoei memasang benteng kokoh berformat 5-4-1. Lima bek sejajar plus empat gelandang membuat ruang gerak para penyerang Belgia menyempit hingga nyaris tak bersisa.
Iran sesekali mencoba keluar dari tekanan, namun mereka pun tak luput dari catatan kartu. Pada menit ke-33, Saeid Ezatolahi diganjar kartu kuning karena menahan (holding) lawan, sebuah pelanggaran taktis untuk memutus alur serangan tuan rumah.
Memasuki babak kedua, Ghalenoei langsung memasukkan Alireza Jahanbakhsh menggantikan Hardani untuk menambah daya ledak serangan balik. Garcia membalas dengan tiga pergantian sekaligus pada menit ke-58, menurunkan Castagne, Vanaken, dan Lukebakio demi menyuntikkan energi dan kreativitas baru.
Namun, segalanya berubah pada menit ke-66. Bek muda Belgia, Ngoy, melakukan pelanggaran menahan lawan (holding) dan dihukum kartu merah langsung oleh wasit. Ironisnya, keunggulan jumlah pemain yang seharusnya menguntungkan Iran justru tak banyak mengubah peta permainan, sebab Iran memang sejak awal memilih bertahan dalam-dalam.
Ketimpangan jumlah pemain malah membuat Iran semakin nyaman menumpuk pertahanan. Ghalenoei merespons dengan memasukkan Mohammadi dan Torabi pada momen yang sama, memperkuat sisi sayap untuk meredam serangan Belgia.
Garcia tak kehabisan akal. Pada menit ke-73, ia menarik Lukaku yang sudah mengantongi kartu kuning dan memasukkan Theate untuk menyeimbangkan lini belakang yang kekurangan satu personel. Belgia terus menggempur, total melepaskan 21 tembakan dengan tujuh di antaranya mengarah ke gawang, tetapi semua kandas oleh kerapatan barisan pertahanan Iran.
Iran, di sisi lain, hanya mampu melepaskan tujuh percobaan dengan tiga tepat sasaran. Statistik yang minim, namun cukup untuk menggambarkan strategi mereka yang sepenuhnya berfokus pada hasil seri sebagai kemenangan moral.
Menjelang akhir laga, Garcia bahkan menarik De Bruyne dan memasukkan Fernandez-Pardo pada menit ke-87, sebuah upaya terakhir mencari celah. Iran pun terus merotasi pemain dengan memasukkan Moghanlou dan Hosseinzadeh untuk menjaga kebugaran lini bertahan.
Hingga wasit meniup peluit panjang, papan skor tak bergerak dari angka 0-0. Belgia harus menelan kekecewaan karena gagal mengkapitalisasi dominasi, sementara Iran merayakan satu poin berharga sebagai bukti bahwa keteguhan bisa menumbangkan keunggulan teknis.
Hasil ini membuat persaingan di grup semakin menarik. Belgia kini dituntut bermain lebih efektif, sementara Iran membuktikan bahwa pertahanan disiplin tetap menjadi senjata ampuh di panggung sebesar Piala Dunia.




๐ฌ Komentar (0)