⚽ Selasa, 21 Juli 2026
2BABAK.Sepak Bola Indonesia & Dunia
Piala Dunia

Scaloni Menangis di Podium Kekalahan, dan Itu Justru Cara Terbaik Menutup Era Emasnya

๐Ÿ•’ 5 jam lalu BARU ยท โœ๏ธ Redaksi 2Babak ยท ๐Ÿค– Dibantu AI
Scaloni Menangis di Podium Kekalahan, dan Itu Justru Cara Terbaik Menutup Era Emasnya

Ada pelatih yang dipecat, ada yang kabur, dan ada yang tahu persis kapan sebuah cerita sudah selesai ditulis. Lionel Scaloni masuk kategori terakhir, dan menurut kami itulah bentuk kehormatan paling langka di sepak bola modern. Air matanya di ruang pers usai final bukan tanda kelemahan. Itu tanda seseorang yang sadar bahwa apa yang ia bangun tidak bisa diulang dengan tombol reset.

Faktanya singkat saja. Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final, dan Scaloni menyatakan akan melanjutkan sebagai pelatih Argentina hingga Desember lalu kemungkinan berhenti, meski ia mengaku sudah punya rencana yang tampaknya tak akan lama. Ia akan lebih dulu berdiskusi dengan Presiden AFA, menegaskan akan menghormati kontraknya hingga selesai, lalu baru melihat situasinya. Selebihnya, izinkan kami bersikap.

Kenapa "mungkin berhenti" itu bukan keraguan

Banyak yang membaca kalimat Scaloni sebagai orang bimbang. Kami membacanya sebaliknya. Dengarkan alasannya: untuk terus melanjutkan mereka membutuhkan banyak hal, harus memulai lagi, harus membentuk kelompok seperti yang mereka miliki sekarang, dan itu sangat sulit untuk dibangun kembali. Itu bukan bahasa orang yang kehabisan ide. Itu bahasa orang yang terlalu jujur untuk berpura-pura bahwa keajaiban bisa dipesan ulang.

Dan angkanya mendukung kegelisahan itu. Delapan dari sebelas pemain inti di final adalah bagian dari tim juara empat tahun sebelumnya. Artinya tulang punggung skuad ini sudah menua bersama. Meneruskan sampai Piala Dunia 2030 dengan kerangka yang sama adalah bunuh diri pelan-pelan, dan Scaloni cukup pintar untuk tidak menodai warisannya dengan proyek regenerasi yang setengah hati.

Warisan yang tak perlu dibela

Mari jujur soal ukuran pencapaian pria ini. Scaloni menangani Argentina sejak 2018 dan membawa Messi dkk juara Copa America 2021 dan 2024, Piala Dunia 2022, serta Finalissima 2022. Menambahkan final Piala Dunia 2026 ke daftar itu, meski kalah, tetap gila secara statistik. Pelatih yang datang sebagai juru selamat sementara berubah jadi manajer paling bergelar dalam sejarah timnas Argentina.

Memang ada yang menuding penampilannya di final buruk, mulai dari susunan pemain sampai keputusan yang lamban. Kritik itu sah. Tapi menilai satu malam di atas tujuh tahun dominasi adalah cara berpikir yang malas. Argentina kalah dari Spanyol yang sedang berada di puncak generasinya sendiri, bukan dari tim medioker.

Yang kami khawatirkan justru datang setelah Desember

Pertanyaan sebenarnya bukan apakah Scaloni layak pergi, tapi siapa yang sanggup menggantikan pria yang membangun budaya menang dari nol. AFA punya waktu terbatas dan ekspektasi publik yang tak kenal ampun. Salah pilih penerus, dan seluruh fondasi emosional yang dibangun Scaloni bisa runtuh dalam satu siklus kualifikasi.

Prediksi kami: Scaloni benar-benar akan pamit di penghujung 2026, dan Argentina akan menghabiskan bertahun-tahun mencari sosok yang bisa menyamai rasa aman yang ia berikan. Kalau ini memang akhirnya, biarkan ia pergi sambil menangis. Hanya orang yang benar-benar peduli yang menangis di momen seperti itu. Laporan pernyataan Scaloni dihimpun dari Bola.com, Kompas.com, dan Detik; foto oleh AFP/AP.

Reaksimu:

๐Ÿ’ฌ Komentar (0)

โ† Kembali ke daftar berita

๐Ÿ“ฐ Berita Lainnya