Piala Dunia

Singa Atlas Bekuk Ambisi Brasil di MetLife, Vinicius Selamatkan Selecao dari Kekalahan

πŸ“… 14 Juni 2026 Β· ✍️ Redaksi 2Babak
Singa Atlas Bekuk Ambisi Brasil di MetLife, Vinicius Selamatkan Selecao dari Kekalahan

Aroma kejutan langsung menyeruak di MetLife Stadium saat Brasil yang dibesut Carlo Ancelotti gagal menundukkan Maroko pada laga perdana Grup di Piala Dunia 2026. Skor 1-1 menjadi penutup pertandingan yang berlangsung intens, sekaligus mengingatkan bahwa Singa Atlas asuhan Mohamed Ouahbi bukan lawan sembarangan.

Kedua tim sama-sama mengusung formasi 4-2-3-1, namun justru Maroko yang lebih dulu menemukan ritme. Pada menit ke-21, Brahim Diaz membongkar lini belakang Selecao dengan sebuah umpan matang yang diselesaikan dengan tenang oleh Ismael Saibari. Gol itu sontak membungkam ambisi besar Brasil dan membuat para pendukung berjuluk samba terdiam sejenak.

Namun keunggulan Maroko tak bertahan lama. Sebelas menit berselang, Bruno Guimaraes tampil sebagai arsitek serangan dengan mengirim bola kepada Vinicius Junior. Bintang Real Madrid itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-32. Stadion kembali bergemuruh, dan tensi laga pun meningkat.

Keagresifan Brasil dalam menutup ruang justru berbuah masalah disiplin. Pada menit ke-37, gelandang bertahan Casemiro diganjar kartu kuning setelah menjatuhkan lawan dengan pelanggaran tripping di lini tengah. Hanya enam menit kemudian, bek Roger Ibanez menyusul rekannya ke dalam buku catatan wasit, juga karena pelanggaran tripping yang menghentikan serangan Maroko secara ilegal.

Dua kartu kuning beruntun itu rupanya menjadi alarm bagi Ancelotti. Begitu turun minum, sang pelatih veteran langsung mengambil keputusan berani dengan menarik keluar Ibanez dan Casemiro sekaligus. Danilo dan Fabinho dimasukkan untuk menstabilkan lini pertahanan sekaligus menghindari risiko kartu kedua yang bisa berakibat fatal.

Di babak kedua, Brasil berusaha menambah daya gedor. Pada menit ke-61, Matheus Cunha masuk menggantikan Lucas Paqueta, disusul Luiz Henrique yang menggantikan Igor Thiago semenit kemudian. Ancelotti jelas ingin menyuntikkan kecepatan dan kesegaran di sepertiga akhir lapangan.

Maroko tak tinggal diam. Ouahbi merespons dengan memasukkan Chemsdine Talbi dan Soufiane El Mourabet pada menit ke-65, menggantikan Brahim Diaz dan Ounahi. Strategi ini menjaga keseimbangan tim sekaligus mengganggu irama serangan Brasil.

Gelombang pergantian berlanjut pada menit ke-80, ketika kedua pelatih merotasi sejumlah pemain. Brasil bahkan menarik keluar otak permainan mereka, Bruno Guimaraes, digantikan Danilo Santos. Menjelang akhir laga, Maroko memasukkan striker tajam Soufiane Rahimi pada menit ke-89 menggantikan sang pencetak gol, Saibari, demi mencari peluang kemenangan.

Statistik pertandingan menggambarkan laga yang nyaris berimbang. Brasil sedikit unggul penguasaan bola dengan 52 persen berbanding 48 persen, serta melepaskan 13 tembakan dengan lima mengarah ke gawang. Maroko sebenarnya lebih rajin menembak dengan 14 percobaan, namun hanya tiga yang tepat sasaran. Dominasi Brasil terlihat dari enam sepak pojok berbanding dua, tetapi tingginya angka pelanggaran 16 banding 14 menunjukkan betapa kerasnya pertarungan ini.

Hasil imbang ini memberi modal berharga bagi Maroko sekaligus pekerjaan rumah serius bagi Ancelotti. Selecao tampil belum padu dan terlalu mudah terpancing pelanggaran. Di sisi lain, Singa Atlas membuktikan diri sebagai kuda hitam yang patut diwaspadai di Piala Dunia 2026.

← Kembali ke daftar berita

Berita Lainnya