Tembok Ghana Bikin Frustrasi Tuchel, England Tertahan Tanpa Gol di Gillette
Dominasi nyaris total ternyata tidak selalu berbuah kemenangan. England harus menelan kenyataan pahit itu di Gillette Stadium, saat skuad asuhan Thomas Tuchel ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana pada laga kedua fase grup Piala Dunia 2026.
Dengan formasi 4-2-3-1, Tuchel memerintahkan timnya menekan tinggi sejak menit awal. Hasilnya terlihat di papan statistik: England menguasai 79 persen bola, melepaskan 19 tembakan, dan memaksa sembilan kali sepak pojok. Masalahnya, hanya tiga percobaan yang menemui sasaran. Ghana, di seberang lapangan, memang hanya mencatat dua tembakan, namun pertahanan mereka jauh lebih efektif ketimbang serangan.
Carlos Queiroz tampil sebagai ahli strategi bertahan. Skema 4-1-4-1 yang ia terapkan menumpuk pemain di area sendiri, menutup ruang antarlini, dan membuat penguasaan bola England terasa hambar. Tak heran, Ghana mengumpulkan 24 pelanggaran sepanjang laga, dua kali lipat lebih banyak dari lawannya. Mereka rela mengorbankan tempo demi menjaga gawang tetap perawan.
Tensi mulai memanas menjelang turun minum. Pada menit ke-41, Declan Rice diganjar kartu kuning setelah menjegal lawan di lini tengah. Pelanggaran itu jadi penanda betapa England mulai kehilangan kesabaran menghadapi blok rapat Ghana. Babak pertama pun ditutup tanpa gol, meski Three Lions terus menggedor.
Memasuki babak kedua, Ghana ganti mendapat peringatan. Iñaki Williams dihukum kartu kuning di menit ke-60 akibat pelanggaran, dan tak lama berselang ia ditarik keluar. Queiroz memasukkan Abdul Fatawu Issahaku di menit ke-66, disusul Prince Kwabena Adu menggantikan Jordan Ayew semenit kemudian, demi menyegarkan transisi.
Tuchel pun tak tinggal diam. Ia lebih dulu menurunkan Bukayo Saka di menit ke-65 untuk menggantikan Anthony Gordon, mencari kreativitas baru di sayap, sembari memasukkan Nico O'Reilly menggantikan Djed Spence semenit setelahnya. Perubahan terus berlanjut: Morgan Rogers masuk menggantikan Jude Bellingham di menit ke-73, lalu Eberechi Eze menggeser Elliot Anderson di menit ke-74. Semua dilakukan demi membongkar kebuntuan.
Namun gelombang serangan itu tetap kandas di hadapan disiplin pemain Ghana. Bola-bola silang dari sembilan sepak pojok gagal dimaksimalkan, sementara umpan-umpan terobosan selalu terbaca lebih dulu oleh barisan belakang lawan.
Di sepuluh menit terakhir, Tuchel melempar kartu as Marcus Rashford pada menit ke-83 untuk menggantikan Noni Madueke, berharap kecepatannya bisa merobek pertahanan yang mulai kelelahan. Ghana membalas dengan memasukkan Kojo Peprah Oppong di menit ke-87 menggantikan Marvin Senaya, lalu Abdul Rahman Baba untuk Prince Kwabena Adu di menit ke-95 guna mengulur waktu dan menjaga keseimbangan.
Wasit akhirnya meniup peluit panjang dengan skor tetap kacamata. Bagi England, hasil ini terasa seperti dua poin yang hilang. Penguasaan bola luar biasa, peluang berlimpah, tetapi sentuhan akhir tumpul di kotak penalti. Tuchel jelas punya pekerjaan rumah soal penyelesaian akhir.
Sebaliknya, Ghana boleh berbangga. Hanya dengan 21 persen penguasaan bola, mereka berhasil mencuri satu poin berharga dari salah satu favorit juara. Strategi bertahan Queiroz terbukti ampuh, dan satu angka ini bisa menjadi modal psikologis yang besar untuk laga-laga berikutnya di fase grup.





💬 Komentar (0)