Piala Dunia

Drama di SoFi: Iran Dua Kali Tertinggal, Dua Kali Bangkit Tahan New Zealand

πŸ“… 16 Juni 2026 Β· ✍️ Redaksi 2Babak
Drama di SoFi: Iran Dua Kali Tertinggal, Dua Kali Bangkit Tahan New Zealand

Pembuka petualangan Iran di Piala Dunia 2026 berubah menjadi pertarungan emosional di SoFi Stadium. Skuad asuhan Amir Ghalenoei dipaksa dua kali mengejar ketertinggalan sebelum akhirnya pulang dengan satu poin lewat hasil imbang 2-2 melawan New Zealand yang tampil lebih tajam di depan gawang.

New Zealand, yang mengandalkan formasi 4-2-3-1, langsung mengejutkan sejak menit-menit awal. Pada menit ketujuh, kolaborasi maut antara Chris Wood dan Elijah Just membuka skor. Wood menjadi pengumpan, sementara Just dengan tenang menuntaskan peluang untuk memimpin 1-0. Iran sempat gugup, tetapi perlahan menemukan ritme melalui skema 4-4-2 yang mengandalkan transisi cepat.

Keseimbangan kembali pada menit ke-32 ketika Ramin Rezaeian melepaskan eksekusi yang menjebol gawang New Zealand. Gol penyama kedudukan itu membuat Iran tampil lebih percaya diri dan menutup babak pertama dengan skor 1-1.

Ghalenoei tak ragu mengotak-atik timnya di babak kedua. Mehdi Ghaedi sudah dimasukkan sejak menit 46 menggantikan Yousefi, lalu Alipour menyusul pada menit ke-53. Namun ironisnya, justru New Zealand yang kembali memimpin tepat satu menit setelahnya. Di menit ke-54, duet Wood dan Just kembali bekerja sempurna. Wood lagi-lagi menjadi penyuplai, dan Just mencatatkan brace pribadinya untuk membawa New Zealand unggul 2-1.

Iran menolak menyerah. Pada menit ke-64, Rezaeian beralih peran dari pencetak gol menjadi kreator. Umpannya dimanfaatkan dengan baik oleh Mohammad Mohebi yang menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Gol itu sekaligus membayar dominasi serangan Iran yang akhirnya membuahkan hasil.

Kedua pelatih kemudian berlomba menyegarkan lini. Ghalenoei memasukkan Ehsan Hajsafi pada menit ke-65 menggantikan Ghoddos, dilanjutkan Hosseinzadeh untuk Taremi di menit ke-80. Dari kubu New Zealand, gelombang pergantian datang beruntun: Old dan Thomas masuk di menit ke-68, disusul Elliot pada menit ke-78, serta Randall dan Bindon di masa injury time untuk mengamankan hasil.

Ketegangan memuncak menjelang akhir laga. Pada menit ke-89, Hajsafi yang baru saja masuk justru terjebak emosi. Ia menjegal lawan dalam aksi tripping dan langsung diganjar kartu kuning oleh wasit. Momen itu menggambarkan betapa keras dan panasnya pertarungan di sepuluh menit terakhir.

Jika menengok statistik, laga ini memang berjalan ketat. New Zealand sedikit unggul dalam penguasaan bola dengan 52% berbanding 48% milik Iran. Menariknya, Iran melepaskan lebih banyak tembakan, yakni 17 percobaan, namun hanya empat yang menemui sasaran. Sebaliknya, New Zealand lebih efisien dengan 14 tembakan dan delapan di antaranya tepat sasaran, sebuah catatan yang menjelaskan mengapa mereka mampu mencetak dua gol.

Di sektor lain, Iran lebih agresif menekan lewat empat sepak pojok dibanding satu milik lawan, sementara urusan pelanggaran terlihat berimbang dengan 10 untuk Iran dan delapan untuk New Zealand.

Hasil imbang ini menyisakan rasa yang berbeda bagi kedua tim. Iran patut bangga atas mental pantang menyerah, tetapi efektivitas penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah. New Zealand, melalui ketajaman Just dan kemurahan hati Wood sebagai pengumpan, membuktikan diri sebagai lawan yang tak bisa dipandang sebelah mata di Piala Dunia 2026.

← Kembali ke daftar berita

Berita Lainnya