Haaland Ganda, Norwegia Lumat Irak 4-1 di Pembuka Grup Gillette
Gillette Stadium menjadi saksi langkah meyakinkan Norwegia di partai pembuka fase grup Piala Dunia 2026. Anak asuh Stale Solbakken tampil dominan dan akhirnya melumat Irak dengan skor telak 4-1, sebuah hasil yang mencerminkan jurang kelas di sepanjang sembilan puluh menit lebih.
Mengusung formasi 4-4-2 yang berhadapan dengan skema identik milik Graham Arnold, Norwegia langsung memegang kendali. Penguasaan bola 61 persen menjadi modal mereka menekan tanpa henti, dan tekanan itu berbuah di menit ke-29. Erling Haaland menuntaskan umpan matang D. Wolfe untuk membuka keunggulan, gol yang seakan menegaskan siapa pemilik pertandingan.
Namun Irak menolak menyerah begitu saja. Sepuluh menit berselang, A. Hussein membalas lewat sebuah gol cantik yang dirancang oleh A. Al Ammari pada menit ke-39. Sejenak Gillette Stadium dipenuhi harapan bahwa Singa Mesopotamia mampu menyamakan momentum.
Harapan itu padam dengan cepat. Hanya empat menit setelah gol balasan, Haaland kembali beraksi pada menit ke-43. Ketajamannya membawa Norwegia memimpin 2-1 saat turun minum, sekaligus mengembalikan dominasi yang sempat goyah.
Memasuki babak kedua, Arnold mencoba menyegarkan lini Irak. Pada menit ke-59 ia memasukkan Z. Iqbal dan M. Farji menggantikan Z. Ismaeel serta A. Al Hamadi, berharap menambah daya gedor. Sayang, perubahan itu belum mampu menembus rapatnya pertahanan Norwegia yang hanya memberi Irak satu tembakan tepat sasaran dari sebelas percobaan.
Solbakken justru melakukan rotasi besar-besaran di menit ke-73. Empat pemain sekaligus masuk: A. Schjelderup, K. Thorstvedt, L. Ostigard, dan O. Bobb menggantikan A. Nusa, F. Aursnes, D. Wolfe, dan A. Sorloth. Pergantian ini segera membayar diri. Pada menit ke-76, salah satu pemain pengganti, Ostigard, mencatatkan namanya di papan skor melalui sundulan yang dirancang oleh kapten M. Odegaard. Norwegia memimpin tiga gol.
Irak terus berusaha tampil disiplin, meski tekanan membuat lini belakang mereka kerap tertarik mundur. Frustrasi itu sempat tergambar pada menit ke-86 ketika Z. Tahseen diganjar kartu kuning karena menahan lawan (holding) dalam upaya menghentikan serangan Norwegia. Kartu tersebut menjadi satu-satunya catatan disiplin dalam laga yang sebenarnya cukup keras, mengingat kedua tim sama-sama melakukan banyak pelanggaran.
Solbakken bahkan sempat menarik Odegaard pada menit ke-81, memasukkan P. Berg untuk mengatur ritme di sisa pertandingan. Keputusan itu tak mengurangi tekanan Norwegia. Justru di masa injury time, petaka kembali menghampiri Irak.
Pada menit ke-90+6, A. Hussein yang sebelumnya menjadi pahlawan dengan gol balasan, berubah menjadi tokoh kemalangan. Ia mencetak gol bunuh diri yang memantapkan kemenangan Norwegia menjadi 4-1. Sebuah akhir pahit bagi pemain yang sejatinya tampil penuh semangat.
Statistik akhir menggambarkan jalannya laga dengan jelas. Norwegia melepaskan dua belas tembakan dengan lima mengarah ke gawang dan menguasai lima sepak pojok, sementara Irak harus puas dengan penguasaan bola 39 persen. Tiga poin pertama pun resmi menjadi milik skuad Solbakken, dengan Haaland sebagai bintang utama yang menebar ancaman sepanjang pertandingan.
Bagi Irak, kekalahan ini menjadi pelajaran berharga di awal turnamen. Arnold masih punya waktu memperbaiki ketajaman lini depan sebelum laga berikutnya, sementara Norwegia melaju dengan kepercayaan diri tinggi.



๐ฌ Komentar (0)