Sabar Berbuah Manis: Eustaquio Patahkan Mimpi Bafana Bafana di Detik Akhir
South Africa 0-1 Canada
South Africa 0-1 Canada
Drama tersaji hingga napas terakhir di SoFi Stadium. Canada memaksa South Africa menyerah 0-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, tepat ketika laga seolah hendak berlanjut ke babak tambahan. Gol semata wayang Stephen Eustaquio di menit 90+2 menjadi pembeda dalam pertarungan yang sengit dan penuh kesabaran.
Hugo Broos menurunkan skema 4-2-3-1 yang menekankan penguasaan bola. Sepanjang laga, Bafana Bafana memang lebih banyak memegang kendali dengan 58 persen penguasaan bola. Namun dominasi itu tak diterjemahkan menjadi peluang berbahaya. Dari enam percobaan, hanya satu yang benar-benar mengarah ke gawang. Inilah ironi yang akhirnya menghukum tim asuhan Broos.
Di seberang, Jesse Marsch memilih pendekatan 4-4-2 yang lebih pragmatis dan langsung. Meski rela melepas penguasaan bola, Canada justru lebih tajam dan agresif. Mereka melepaskan 12 tembakan dengan tujuh di antaranya tepat sasaran, sebuah efisiensi serang yang jauh melampaui lawannya. Canada juga lebih rajin menusuk lewat sayap, terlihat dari empat sepak pojok yang mereka dapatkan.
Broos bereaksi cepat saat turun minum dengan memasukkan Themba Mbatha menggantikan Relebohile Mofokeng, mencoba menyuntikkan energi baru di lini serang. Namun babak kedua justru diwarnai pelanggaran-pelanggaran keras dari kubu Canada. Pada menit ke-54, Niko Saliba terlebih dahulu menerima kartu kuning karena menahan lawan secara ilegal. Lima menit kemudian, Saliba ditarik keluar digantikan Nathan-Dylan Sigur, bersamaan dengan masuknya Luc De Fougerolles untuk Moise Bombito.
Ironisnya, pemain pengganti pun tak luput dari masalah disiplin. Sigur ikut mengantongi kartu kuning di menit ke-67 dengan pelanggaran serupa, yaitu menahan pergerakan pemain South Africa. Dua kartu akibat holding ini menggambarkan betapa Canada harus bekerja keras meredam ambisi serang tuan rumah secara fisik.
Marsch terus mengocok komposisi timnya demi mempertahankan intensitas. Pada menit ke-70, dua perubahan dilakukan sekaligus: Jonathan David masuk menggantikan Tani Oluwaseyi, sementara Jacob Shaffelburg menggantikan Liam Millar untuk menambah kecepatan. Lalu di menit ke-75, nama besar Alphonso Davies dimainkan menggantikan Tajon Buchanan, sebuah sinyal bahwa Canada berniat mengambil alih momentum di sisa waktu.
Menjelang akhir laga, Broos bereaksi dengan langkah putus asa di menit ke-86, menarik Evidence Makgopa dan Thabo Maseko untuk digantikan Iqraam Rayners dan Thapelo Moremi. Perubahan ini gagal mengubah arah pertandingan. Justru di saat South Africa kehabisan ide, ketenangan Canada terbayar lunas.
Ketika papan skor menunjukkan waktu tambahan dan banyak yang memprediksi laga melaju ke perpanjangan waktu, Eustaquio tampil sebagai pahlawan. Gol normalnya di menit 90+2 meledakkan kegembiraan bangku cadangan Canada sekaligus meruntuhkan harapan ribuan pendukung Bafana Bafana.
Kekalahan ini terasa pahit bagi South Africa yang sejatinya lebih banyak menguasai jalannya laga. Namun sepak bola selalu berbicara soal efektivitas, dan dalam aspek itu, anak-anak asuh Jesse Marsch jauh lebih dingin. Walau melakukan 16 pelanggaran dan menerima dua kartu kuning, Canada berhasil menjaga gawang mereka tetap perawan sambil mencuri satu gol penentu.
Dengan hasil ini, Canada memastikan langkah ke babak berikutnya, sementara perjalanan South Africa di Piala Dunia 2026 harus terhenti dengan rasa penyesalan yang dalam.



๐ฌ Komentar (0)